Tags

Marah bukanlah respon yang cerdas. Orang bijak selalu bahagia dan orang yang bahagia tak akan marah.

Pemicu kemarahan kebanyakan adalah pengharapan yang tak sampai. Terkadang kita menginvestasikan diri dalam sebuah proyek yang tak menghasilkan seperti yang diinginkan, membuat kita menjadi marah. Semua “seharusnya” merujuk pada pengharapan, suatu prediksi masa depan. Perlu menyadari, masa depan itu tak pasti, tak dapat diramalkan. Terlalu mengandalkan suatu pengharapan masa depan, sesuatu seharusnya namanya cari masalah.

Jika akan mengungkapkan kemarahan, harus mencari pembenaran bagi diri anda sendiri. Harus meyakinkan diri bahwa marah itu pantas, tepat dan benar. Di dalam proses batin yang marah, seolah-olah sedang terjadi sebuah pengadilan dalam pikiran anda.
Jaksa mewakili perasaan marah, yang menuntut ketidaksesuaian dan pembenaran dari amarah.
Pembela merupakan nurani yang memahami alasan yang mendasari.
Hakim yang memutuskan apakah marah apa tidak.

Pemaafan positif yaitu dengan memberi maaf dan menangani akar masalah