Tags

Judul Buku : Every Nation for Itself: Winners and Losers in a G-Zero World
Pengarang: Ian Bremmer
Penerbit : Penguin Group
Cetakan : Pertama, Mei 2012
Tebal : viii + 229 halaman

G-Zero (government 0) merujuk pada suatu fenomena saat ini: tidak ada satu negara atau satu aliansi negarapun yang mau dan mampu memegang tongkat kepemimpinan secara global. Ini karena negara-negara yang di masa lalu pernah menjadi pemimpin dunia, saat ini sedang menghadapi berbagai masalah internal yang besar, kompleks dan pelik. Amerika Serikat yang pernah amat digdaya, kini lumpuhsecara politik ataupun ekonomi. Besarnya defisit anggaran belanja mengurangi kemampuannya bermain dipercaturan politik dan ekonomi global. Kawasan Eropajuga sedang menghadapi persoalan keuangan akut, yang bisa mengarah pada bubarnya aliansinegara Eropa.

Cina yang digadang-gadang memiliki potensi besar menjadi negara adidaya berikutnya, juga sedang menghadapi persoalan pelemahan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya berbagai masalah domestik. Sementara negara yang baru muncul (new emerging force) seperti Brasil, Turki ataupun India belum bisa diharapkan memegang kepemimpinan dunia, karena prestasi ekonomi yang dicapainya selama ini belum memiliki fondasi yang cukup kuat untuk dapat tumbuh secara berkelanjutan. Adapun aliansinegara seperti G-8 dan G-20, yang diharapkan dapat berperan memimpin dunia secara kolektif, tidakmenunjukkan kinerja kepemimpinan yang diharapkan. Sehingga, untuk pertama kalidalam 7dekade terakhir, tidak ada satu kekuatan atau aliansi kekuatan yang muncul untuk memimpin dunia dan membantu menyolusi permasalahan yang bersifat global.Masing-masing negara hanya berpikir dan bertindak untuk kepentingan sendiri.

Ironis, memang. Persoalan dunia kian besar, kompleks dan melintasi batas negara, tetapi kemampuan atau kekuatan negara maju ataupun aliansi negara maju semacam G-8 atau G-20 malah kian memudar. Padahaldi lain pihak, masalah global yang terkait perekonomian global, perubahan iklim, cyberattack, terorisme dan keamanan pangan serta air bersih tidak bisa diatasi oleh satu negara saja. Harus ada kerjasama yang baik untuk menyolusi bersama. Dunia membutuhkan kepemimpinan yang mau dan mampu menanggung biaya atau beban yang harus ditanggung dan memiliki kekuatan yang memadai untuk memaksakan suatu kompromi tertentu yang bertujuan menyolusi masalah yang dihadapi. Untuk memimpin perlupengorbanan, tetapi dalam kondisi seperti saat ini tidak ada satu negarapun yang bersedia berkorban. Contohnya Cina. Walaupun memiliki kemampuan untuk itu, Cina menolak berkorban untuk menjadi pemimpin internasional saat ini.

Dulu, AS, dengan segala kedigdayaannya mampu turut serta secara aktif memimpin menyelesaikan berbagai persoalan dunia. Kini, berbagai persoalan domestik yang melilitnya menjadikan AS kurang peduli terhadap persoalan global yang tidak secara langsung dapat mengganggu mereka. Bahkan, walaupun awalnya globalisasi adalah inisiatif AS, sekarang dipandang sebagai sesuatu yang cukup mengganggu mereka. Globalisasi memudahkan banyak barang murah masuk ke pasar domestiknya dan menghilangkan banyak lapangan pekerjaan.

Pernah terbersit harapan, dengan berakhirnya era perang dingin, diperkirakan AS akan mampu memimpin dan mendominasi politik ekonomi global. Nyatanya tidaklah demikian. Yang terjadi bukannya harmonisasi dalam tatanan internasional, melainkan dunia tanpa kepemimpinan yang bisa mengarah pada terjadinya kekacauan di tingkat global.

Sekarang kita memasuki suatu periode transisi dari dunia yang telah dikenal dengan baik ke dunia yang belum terpetakan. Pergeseran atau perubahan di masa transisi ini pasti menimbulkan konflik antarnegara. Dalam kondisi tidak ada suatu pihakpun yang berani mengambil inisiatif, tindakan masing-masing negara hanyalah menunggu aksi yang dilakukan pihak lain.Selain itu, dalam kondisi masing-masing negara hanya mementingkan kepentingannya sendiri, sikap untuk melakukan isolasi atau proteksi dalam perekonomian suatu negara semakin meningkat dan itu akan memperburuk kohesivitas antarnegara tingkat global.

Tanpa adanya kepemimpinan global yang kuat, tidak ada yang mampu dan bisa menghukum jika suatu negara melakukan pelanggaran yang menyebabkan gangguanharmonisasi tatanan internasional. Dalam dunia G-Zero, kekuatan ekonomi, bukannya kekuatan militer, yang akan menentukan keseimbangan kekuatan internasional. Negara seperti Brasil, Indonesia, Turki dan negara lain yang memiliki pasar relatif besar berpotensi ikut memengaruhi arah pergerakan perekonomian global. Momentum ini merupakan peluang bagi negara-negara tersebut untuk membangun kekuatan ekonomi baru berskala global. Senjata dalam percaturan dunia saat ini adalah akses pasar yang besar, aturan investasi yang jelas dan nilai tukar yang layak.

Dunia tanpa kepemimpinan mendorong munculnya tuntutan untuk menata ulang tatanan ekonomi dunia baru yang tidak semata-mata didominasi kepentingan negara maju seperti di masa lampau. Dalam hubungan internasional, negara yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan internasional (adapter)akan mampu bertahan dan akhirnya bisa mendominasi percaturan ekonomi politik dunia.

Indonesia dapat berperan banyak dalam kondisi demikian. Di samping memiliki pasar yang besar, Indonesia juga memiliki hubungan baik dengan hampir semua negara di dunia. Indonesia dapat berperan sebagai pusat hubungan (pivot) yang mampu menjalin hubungan baik dengan banyak negara, baiksecara ekonomi maupun politik. Karena tak punya banyak musuh, Indonesia dapat dengan leluasa menjalin hubungan dengan banyak negara mana pun, baik di tingkat regional maupun internasional. Indonesia dapat menjalin hubungan yang seimbang dengan Cina, AS, Jepang dan negara maju lain tanpa menimbulkan kecurigaan.

Dalam kondisi saat ini, seringkali atas nama keuntungan (profit),suatu negara bisa bertindak seenaknya karena mereka tahu tidak ada satupun negara yang mampu menjatuhkan sanksi terhadap mereka. Artinya, pihak yang melakukan kecurangan (cheater) akan menang karena tidak ada satu negarapun yang mampu menegakkan aturan yang disepakati bersama.Dengan tidak adanya kepemimpinan global, tidak ada tindakan kolektif yang bisa diharapkan untuk menyolusi masalah global secara bersama. Ini tantangan global di masa depandan kita harus siap menghadapi segala konsekuensinya.

Eko Widodo, staf pengajar Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis dan Komunikasi,Unika Atma Jaya, Jakarta

7th Aug 12. SWA.CO.ID